GAMBAR

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 19 Oktober 2022

Pohon tak Berdaun dan Kunang-kunang.

Dari lantai 12 meter, lantai 3 area produksi dimana aku kerja. Aku benar melihat pohon yang daunnya telah berguguran sekitar 50 meter dari tempat aku duduk menikmati malam tak bersuara. Tak kuasa menahan panasnya kemarau, dikejauhan sana persis jatuhnya bola mata ini kupusatkan pada pohon yang naif itu. Pohon yang tak berdaun, batang-batang menjalar bagai tiada arah, semakin menjalarkan ke atas hanya semakin kehampaan yang ditemui. Tunggu jatuh atau sakit menunggu musim hujan datang.

           Sama seperti laki-laki berusia 26 Tahun yang sedari tadi menatap pohon yang berhasil menanggalkan semua daun pada pucuk tangkai pohon, memikirkan kenapa pohon yang sudah menjulang tinggi itu mau melepaskan seluruh daunnya, dan kenapa daun-daun enggan berada dibagian pohon-pohon itu? Apakah pohon itu membuat daun-daun marah? Menyakiti atau justru mengusir? Atau daun-daun yang sudah sombong dan enggan berada di pohon yang sudah tak terlihat indah itu? Berulang kali lelaki yang akrab dipanggil dengan nama amar itu menyendiri menatap pohon misteri itu.

“dooooooor”.”masih saja kau menatapi pohon yang mau mati itu amar?, tak guna lah kau, pohon itu sudah tak kuat menahan yang ia bebani amar, dah berulang kali lah kau kubilang, tak juga kau dengar, dah lah lihatlah sampai kau bosan mar, aku mau tidur duluan”.

“eh, bentar-bentar, kamu ada benarnya zak”. Amar menyergah zaki pergi dari tempat yang beralas jembatan besi berongga.

“apa lagi?”

“kamu tadi bilang apa?, coba ulang” amar seperti mendapat jawaban dari pernyataan zaki yang sebenarnya sudah biasa keluar dari mulut zaki.

“pohon itu sudah tak kuat menahan yang ia beban amar,” “jelas?” amar mempertegas. “Dah lah aku mau pergi” zaki memalingkan kepala membelakangi amar.

“zak zak zak… kesini zaki,” amar seketika bangun dari lamunannya kini berdiri dengan wajah terkagum seperti melihat para bidadari yang hadir didepannya.

“kenapa lagi amar, sang puit…..” amar menutup mulut zaki dan menolehkan ke pohon yang tak berdaun itu, sekarang penuh dengan kunang-kunang. Entah dari mana kunang-kunang itu hampir memenuhi setiap cabang dan ujung tangkai pohon tak berdaun itu, menggantikan daun yang hilang, pohon yang terlihat layu dan hampir mati itu, berganti seperti pohon syurga yang sangat indah didepan mata.

“i..i…itu benar pohon yang tadi amar?” zaki tak percaya melihat keindahan pohon yang tadi ia abaikan karena tak ada indah-indahnya, dan sekarang berbalik 1000 derajat.

“kamu benar zaki, pohon itu sudah tak kuat menahan beban, sehingga ia lepaskan semua beban itu dan membiarkan ia tetap suci tanpa noda dan dosa”.

“maksudmu?” zaki meminta penjelasan, seolah ambigu dengan perkataan amar

“begini, manusia dengan segala yang ia punya, maka amat terlihat indah, perhiasan, jabatan tinggi, rumah mewah, harta banyak, kendaraan bagus dan apalah yang membuat ia terlihat senang. Kamu tau zak, sejatinya itu semua tidak membuat mereka senang karena tetap mereka khawatir terhadap semua harta itu. Mau diberikan kemana setelah ia tiada, dan apakah kamu perhatikan zak, dari mana harta dan segala yang ia punya didapatkan? Apakah dari yang halal? Ataukah dari……”

“Stop stop, jangan dilanjut” potong zaki. “pernyataan pertama saya setuju, untuk yang kedua kamu jangan suuzon mar, siapa tau dia dapat dari yang halal dan dikasih turunannya”.

“dan kamu yakin nenek moyang mereka dapat dari yang halal?”

“entah, haha” zaki mulai menikmati suasana yang dinikmati amar.

“Dilanjut gak nih” amar menegaskan.

“lanjut-lanjut pak ustadz” zaki menyeringai

“Daun-daun itu berguguran karena bisa saja pohon sudah tak butuh lagi, bisa juga mengganggu, bisa saja pohon tidak tenang dengan adanya daun-daun itu sehingga pohon harus melepaskan semua daunnya agar bersih kembali. Bukankah sama dengan manusia? Saat semua harta yang didapat dan kemewahan, juga posisi tertinggi sudah didapatkan dan justru semua itu tidak memberikan kesenangan dan ketenangan kepada hati mereka, maka sebaiknya mereka melepaskan semua dari hati mereka dan menaruh digenggaman agar mudah untuk melepaskan, bukankah itu pilihan yang terbaik? Kita lihat pohon itu, ia melepaskan semua daun dan menjadikannya suci dan bersih, sehingga tanpa kita sadari, cahaya kunang-kunang muncul dan menghiasi pohon itu. Bukankah manusia juga seperti itu? Setelah ia melepaskan semua yang dapat melalaikan hati dan dari sumber-sumber keburukan maka ia akan mudah untuk berbuat kebaikan dan mengingat Tuhannya. Maka Tuhan memberikan Nur-Cahaya dihatinya untuk menjadi baik dan lebih indah dari sebelumnya”

“emang geh boleh kamu mah lur, kamu belajar dimana ilmu kayak gitu” zaki terkesima

“gunung kidul, kamu mau ikut?”

“yuk, aku ikut, akupun mau belajar biar bisa ngalahin kepinteran kamu”

“Astaghfirullah, niatnya aja udah gak bener”

“hehe, sorry bro becanda” zaki menyeringai lebar.

Zaki dan amar mendapat pelajaran penting dalam kehidupan dari sebuah pohon yang melepasakan semua daunnya sehingga ia terlihat lebih bersih dan cahaya kemudian datang menyinari pohon itu, sehingga terlihat jauh lebih indah. Kita juga harus belajar, bahwa yang kita miliki apakah Benar-benar sudah benar kita butuhkan dan dapat mendekatkan kepada Allah atau justru menjauhkan diri dari mengingat Allah? Jika yang dirasakan justru menjauhkan kepada Allah, bukankah melepaskan yang dicintai untuk mendapat cinta dari yang memeberi cinta adalah hal yang tak terbayarkan oleh gunung emas sekalipun?. 😊

 

kang Iman - 19/10/22


Kamis, 13 Oktober 2022

Jangan Sampai Langkahmu Terhenti

 

Jangan Sampai Langkahmu Terhenti

 

Kamu seorang Berpendidikan, atau bukan orang yang terdidik

Kamu seorang anak bangsawan, ataupun yang lahir dari keluarga yang kekurangan, kamu terlahir menawan ataupun pas pasan.

 

Kamu yang sudah memiliki karir tinggi ataupun yang sampai saat ini masih mengalami kegagalan demi kegagalan dalam meraih mimpi, kamu yang sudah memiliki Pendidikan tinggi ataupun yang hanya memimpikannya.

 

Taka ada Bedanya

Sama dimata Tuhan

Tak Perlu meninggi, karena ia Cuma sementara yang tuhan ciptakan yang bisa kapan saja Tuhan ambil tanpa permisi kepada tuannya. Dan tak perlu berkecil hati, karena tanpa permisi tuannya Tuhan bisa saja berikan sesuatu yang bahkan belum pernah terpikirkan kita untuk memilikinya.

 

Teruslah melangkah sampai tuhan sendiri yang memberhentikannya, di tujuan yang Tuhan mau. Tak perlu melihat Langkah orang yang terlalu pelan, karena kamu akan ikut tertinggal, tak perlu juga melihat Langkah orang yang melangkah terlalu cepat, karena kamu bisa saja terjatuh. Nikmatilah Langkah yang saat ini kamu rasakan, nikmatilah setiap kaki mengangkat dengan harapan, dan nikmatilah setiap kaki yang diletakkan di tanah dengan kepercayaan. Karena saat itulah tujuanmu semakin dekat. Percayalah, tujuanmu begitu dekat saat kamu tetap melangkah.

 

Jangan Sampai Langkahmu Terhenti!

 

 

Kang Iman l 1 Oktober 2022

Bumbu Cinta Nabi Adam

 Bumbu Cinta Nabi Adam

Jika berkata tentang cinta adalah kesetiaan dalam penantian maka harapan adalah jurang kehancuran perasaan dan bahkan kematian hati dalam mencintai. Sejatinya cinta memberikan kebahagiaan, ketenangan dan rasa dihargai dan dilindungi. Ada yang salah dengan cara mengekspresikan cinta yaitu harapan yang berlebih. Harapan yang wajar sebetulnya boleh, namun jadi tidak baik saat harapan disandingkan dengan ekspektasi yang menuntut kita dapatkan.

Seseorang laki-laki yang mencintai seorang wanita dengan penantian yang cukup lama pun tidak menebus sebuah kekecewaan saat Wanita itu tidak memberikan keputusan diluar ekspektasi yang berlebihan, sekalipun Wanita itu Bahagia dengan lelaki lain.

Siapa yang salah? Cinta atau hatinya?.

Hehe, tidak ada yang salah dari keduanya,karena cinta adalah fitrah seperti cintanya Nabi adam kepada siti hawa begitupun sebaliknya, cintanya siti hawa kepada nabi adam. Karena sejatinya cinta hadir untuk menyempurnakan kebahagiaan hidup. Bukankah nabi adam punya segalanya di dalam syurga? Namun mengapa masih merasakan kesedihan? Yah cinta datang dengan Tuhan menciptakan siti hawa dari tulang rusuk nabi adam. Dan menyatukan keduanya dengan cinta.

Dan apakah yang salah hati?

Sepertinya tidak, bagaimana ia, jika hati yang menjadi pusat dari segala yang menggerakan organ tubuh kita, Tuhan yang hanif yang menciptakan hati dengan sebaik-baiknya tuhan ciptakan dengan kesalahan, bukankah hati adalah makhluk yang menempel di dada setiap manusia yang diilhami dengan nafsu dan ketaatan? Dan bukankah kita yang menggerakan atau orang lain?

Ya, kita yang menggerakan, lantas apakah kita yang salah?

Tidak sepenuhnya, karena kita ingat bagaimana nabi adam dengannya cinta kepada siti hawa nabi adam tergoda untuk mengambil buah khuldi untuk menyenangkan yang dicintainya siti hawa, sementara itu larangan berat yang Allah larang. Lalu karena kesalahan itu mereka berdua diturunkan ke bumi. Itulah buah cinta, tidak selamanya indah. Berlanjut kisahnya nabi adam dan hawa diturunkan ke bumi dengan jarak pisah berkilo meter di padang safana yang gersang dan akhirnya bertemu kembali di tempat yang dikenal dengan Jabal Rohmah (Gunung Cinta), begitulah cinta sekalipun tak selalu indah, namun terus indah pada akhirnya.

Dari awal cinta diciptakanpun, cinta sudah dihiasi dengan penyesalan dan harapan perjumpaan kembali bukankah itu mengiris hati? Yah, bisa kita jawab sendiri, yang jelas saat kita merasakan cinta dan berakhir penantian yang tak kunjung datang atau harapan yang kian pupus atau justru kegagalan demi kegagalan. Katakanlah dengan yakin, itulah bumbu cinta. Dan tetap yakin tidak kuasa Allah ciptakan nabi adam hidup sendiri di Syurga, dan tak kuasa Allah pisahkan siti hawa dengan kekasihnya dalam waktu lama, sehingga mereka dipertemukan. Bukankah Allahnya nabi adam dan siti hawa adalah Allah nya kita juga? Yakinlah Allah sedang tersenyum saat kita membaca kilas balik kisah ini.

 

Kang Iman    I   14/10/22