Pohon tak Berdaun dan Kunang-kunang.
Dari lantai 12 meter, lantai 3 area produksi dimana
aku kerja. Aku benar melihat pohon yang daunnya telah berguguran sekitar 50
meter dari tempat aku duduk menikmati malam tak bersuara. Tak kuasa menahan
panasnya kemarau, dikejauhan sana persis jatuhnya bola mata ini kupusatkan pada
pohon yang naif itu. Pohon yang tak berdaun, batang-batang menjalar bagai tiada
arah, semakin menjalarkan ke atas hanya semakin kehampaan yang ditemui. Tunggu jatuh
atau sakit menunggu musim hujan datang.
Sama seperti laki-laki berusia 26 Tahun yang
sedari tadi menatap pohon yang berhasil menanggalkan semua daun pada pucuk
tangkai pohon, memikirkan kenapa pohon yang sudah menjulang tinggi itu mau
melepaskan seluruh daunnya, dan kenapa daun-daun enggan berada dibagian
pohon-pohon itu? Apakah pohon itu membuat daun-daun marah? Menyakiti atau
justru mengusir? Atau daun-daun yang sudah sombong dan enggan berada di pohon
yang sudah tak terlihat indah itu? Berulang kali lelaki yang akrab dipanggil
dengan nama amar itu menyendiri menatap pohon misteri itu.
“dooooooor”.”masih saja kau menatapi pohon yang mau mati itu amar?, tak
guna lah kau, pohon itu sudah tak kuat menahan yang ia bebani amar, dah
berulang kali lah kau kubilang, tak juga kau dengar, dah lah lihatlah sampai
kau bosan mar, aku mau tidur duluan”.
“eh, bentar-bentar, kamu ada benarnya zak”. Amar menyergah zaki pergi
dari tempat yang beralas jembatan besi berongga.
“apa lagi?”
“kamu tadi bilang apa?, coba ulang” amar seperti mendapat jawaban dari
pernyataan zaki yang sebenarnya sudah biasa keluar dari mulut zaki.
“pohon itu sudah tak kuat menahan yang ia beban amar,” “jelas?” amar
mempertegas. “Dah lah aku mau pergi” zaki memalingkan kepala membelakangi amar.
“zak zak zak… kesini zaki,” amar seketika bangun dari lamunannya kini
berdiri dengan wajah terkagum seperti melihat para bidadari yang hadir
didepannya.
“kenapa lagi amar, sang puit…..” amar menutup mulut zaki dan menolehkan
ke pohon yang tak berdaun itu, sekarang penuh dengan kunang-kunang. Entah dari
mana kunang-kunang itu hampir memenuhi setiap cabang dan ujung tangkai pohon
tak berdaun itu, menggantikan daun yang hilang, pohon yang terlihat layu dan hampir mati itu, berganti seperti pohon syurga yang sangat indah didepan mata.
“i..i…itu benar pohon yang tadi amar?” zaki tak percaya melihat
keindahan pohon yang tadi ia abaikan karena tak ada indah-indahnya, dan
sekarang berbalik 1000 derajat.
“kamu benar zaki, pohon itu sudah tak kuat menahan beban, sehingga ia
lepaskan semua beban itu dan membiarkan ia tetap suci tanpa noda dan dosa”.
“maksudmu?” zaki meminta penjelasan, seolah ambigu dengan perkataan amar
“begini, manusia dengan segala yang ia punya, maka amat terlihat indah,
perhiasan, jabatan tinggi, rumah mewah, harta banyak, kendaraan bagus dan
apalah yang membuat ia terlihat senang. Kamu tau zak, sejatinya itu semua tidak
membuat mereka senang karena tetap mereka khawatir terhadap semua harta itu. Mau
diberikan kemana setelah ia tiada, dan apakah kamu perhatikan zak, dari mana
harta dan segala yang ia punya didapatkan? Apakah dari yang halal? Ataukah dari……”
“Stop stop, jangan dilanjut” potong zaki. “pernyataan pertama saya
setuju, untuk yang kedua kamu jangan suuzon mar, siapa tau dia dapat dari yang
halal dan dikasih turunannya”.
“dan kamu yakin nenek moyang mereka dapat dari yang halal?”
“entah, haha” zaki mulai menikmati suasana yang dinikmati amar.
“Dilanjut gak nih” amar menegaskan.
“lanjut-lanjut pak ustadz” zaki menyeringai
“Daun-daun itu berguguran karena bisa saja pohon sudah tak butuh lagi,
bisa juga mengganggu, bisa saja pohon tidak tenang dengan adanya daun-daun itu
sehingga pohon harus melepaskan semua daunnya agar bersih kembali. Bukankah sama
dengan manusia? Saat semua harta yang didapat dan kemewahan, juga posisi
tertinggi sudah didapatkan dan justru semua itu tidak memberikan kesenangan dan
ketenangan kepada hati mereka, maka sebaiknya mereka melepaskan semua dari hati
mereka dan menaruh digenggaman agar mudah untuk melepaskan, bukankah itu
pilihan yang terbaik? Kita lihat pohon itu, ia melepaskan semua daun dan
menjadikannya suci dan bersih, sehingga tanpa kita sadari, cahaya kunang-kunang
muncul dan menghiasi pohon itu. Bukankah manusia juga seperti itu? Setelah ia
melepaskan semua yang dapat melalaikan hati dan dari sumber-sumber keburukan maka
ia akan mudah untuk berbuat kebaikan dan mengingat Tuhannya. Maka Tuhan
memberikan Nur-Cahaya dihatinya untuk menjadi baik dan lebih indah dari
sebelumnya”
“emang geh boleh kamu mah lur, kamu belajar dimana ilmu kayak gitu” zaki
terkesima
“gunung kidul, kamu mau ikut?”
“yuk, aku ikut, akupun mau belajar biar bisa ngalahin kepinteran kamu”
“Astaghfirullah, niatnya aja udah gak bener”
“hehe, sorry bro becanda” zaki menyeringai lebar.
Zaki dan amar mendapat pelajaran penting dalam kehidupan dari sebuah
pohon yang melepasakan semua daunnya sehingga ia terlihat lebih bersih dan
cahaya kemudian datang menyinari pohon itu, sehingga terlihat jauh lebih indah.
Kita juga harus belajar, bahwa yang kita miliki apakah Benar-benar sudah benar
kita butuhkan dan dapat mendekatkan kepada Allah atau justru menjauhkan diri
dari mengingat Allah? Jika yang dirasakan justru menjauhkan kepada Allah,
bukankah melepaskan yang dicintai untuk mendapat cinta dari yang memeberi cinta
adalah hal yang tak terbayarkan oleh gunung emas sekalipun?. 😊
0 komentar:
Posting Komentar