Maaf, Aku
Belum Menaruh Rasa Kepadamu
(Allahu Akbar Allahu Akbar…)
Suara azan membangunkan lelah dan kantuknya. Begitu
berat rasanya untuk bangun kembali. Gimana tidak afwan baru pulang kerja pukul
00.30 sesampai di rumah ia harus menyicil tugas skripsinya hingga pukul 02:00,
yang ia sedang kejar target 2 pekan lagi untuk bisa lulus tahun ini jika tidak
ia harus ikut wisuda tahun depan. Rasanya berat bagi afwan menyiakan waktu
karena itu salah satu impiannya menjadi sarjana sejak masa MTs dulu. Pun demikian
ia ingin memberikan 3 hadiah untuk orangtuanya, bisa wisuda tepat waktu,
menikah dengan cara yang halal dan memberangkatkan umroh/haji, usia orangtuanya
yang sudah renta membuat afwan lebih semangat mengejar impian yang selalu
bergelayut di pikirannya.
Afwan terbangun dari tidurnya yang dalam keadaan
duduk, tangannya masih memegang mouse tanpa kabel berwarna hitam list merah,
itulah warna kesukaan afwan.
“Alhamdulillah, masih ada”
afwan sejak bangun baru sadar bahwa ia belum
menyimpan hasil ketikan skripsi BAB III nya, dan langsung menyimpan. Seketika
kedua mata afwan terpengarah ke handphone yang berada di samping mouse yang
tiba-tiba ada notife pesan masuk.
“afwan jangan lupa pagi ini yang rapi dan tolong siapkan pertanyaan dan
jawaban dari akhwatnya yah, semoga ini jalanmu, barakallahu fiik, semangat yah
:)”.
Seketika wajah afwan merekah melihat pesan
ingatan dari murobinya yang sudah janjian akan nadzor1 dengan
seorang akhwat yang baru ia kenal dalam lembaran curriculum vitae. Menaruh
hanphone ke meja, ambil air wudhu, ambil peci hitam dan memakai sarung,
afwan berangkat sholat subuh ke masjid.
….
Kebiasaan afwan selepas sholat ia melihat fajar
di arah timur yang terlihat jelas dari depan masjid yang cukup tinggi yang
dikelilingi rumah-rumah megah perumahan elit kota baja metropolitan, yang
dihuni para menejer kantoran dan para PNS yang gajian bulanannya sudah 2 digit.
Sementara afwan bukan tinggal disana, ia tinggal di kosan di Lorong dekat
perumahan yang hampir semua tingkat 2 dan 3 yang menutupi atap kosannya. Sambil
duduk di tangga paling atas afwan memandang dengan pandangan takjub.
“MaasyaAllah, Robbana ma kholaqta
hadza baatila, robbana faqina ‘adza bannar”.
Afwan melafadzkan kalimat yang diajarkan gurunya
setiap melihat keindahan alam.
“Kenapa
Afwan, apa yang sedang kamu pikirkan?”
Suara lembut
itu membuyarkan fokus afwan memandangi fajar kemerahan itu.
“Ia
Ustadz, maaf tanya apa tadi?” fokus memandang pemandangan indah di arah timur
membuat telinga afwan blur mendengar pertanyaan ustadz zaki.
“Ustadz liat dari tadi dari
kejauhan, kamu diam tanpa pergerakkan, Ustadz kira kamu sedang lanjutin zikir
disini”
tertawa kecil ustadz zaki yang merupakan guru
ngaji afwan di komplek seberang kosan afwan.
“Ustadz ini bisa aja, memang saya
bukan sedang Latihan baris berbaris ustadz yang harus gerak-gerak ke kanan dan
ke kiri sambil loncat-loncat” afwan menyeringai
“kamu
bisa juga balas candaan saya afwan” senyum ustadz zaki
“Jika ada yang mau kamu ceritakan,
katakan saja selagi itu bukan aib kamu yang tak boleh kamu ceritakan pada orang
lain”
“saya malu ustadz”
“ngapain malu, kan kamu pakai baju lengkap seperti ini” candaan ustadz
zaki sambil melirik baju afwan yang masih mengenakan baju kerja, sarung dan
peci hitam
“ceritakan saja afwan, agar lebih lega, semoga ustadz bisa kasih masukan”
pinta ustadz zaki lembut
“Baik ustadz” afwan membenahi kakinya sekarang berhadapan kepada ustadznya.
“gini ustadz, saya mau nadzor dengan seorang akhwat yang dikenalkan
dengan teman saya dan kebetulan teman saya yang jadi perantaranya. Rencanaya pagi
ini kita melangsungkan nadzornya”
“Nah itu bagus, MaasyaAllah, jarang loh orang mau pakai sistem seperti
ini dalam memilih pasangan, lalu apa yang menjadi berat bagimu?”. Tanya ustadz
zaki
“yang masih kepikiran adalah saya ragu tadz. Saya pernah dengan yakin
nadzor seperti ini karena akhwatnya meyakinkan saya untuk lanjut setelah baca curiculum vitae nya. Setelah nadzor ia memutuskan lanjut, Namun setelah tahap
mengenalkan kepada orangtua, saya sudah minta izin ke orangtua meski berat dan
akhirnya diizinkan, namun bukan karena orangtuanya, akhwatnya sendiri yang
mangatakan untuk tidak lanjut dengan alasan masih belum yakin karena saya
terlalu sibuk dengan organisasi dan kegiatan saya” jelas afwan
“lalu, menurut kamu, apakah organisasi kamu itu menghambat visi misi
pernikahannya nanti” tanya ustadz zaki meyakinkan
“Justru menurut saya, organisasi saya ini akan mendukung visi misi
pernikahan nanti ustadz, saya juga sudah sampaikan jika dengan alasan syar’i saya
juga bisa minta digantikan posisi saya di organisasi kepada orang lain”
“lalu jawabannya” ustadz zaki penasaran
“begitulah ustadz, mungkin karena alasan lain yang tidak ia bisa
sampaikan”
“baik. Sekarang kamu menyerah dengan kejadian itu? Sampai-sampai ada
kesempatan yang baik ini justru berbalik kamu yang ragu?” tanya Ustadz zaki
yang merubah posisi duduk menghadap kea rah afwan, membuat posisi ustadz zaki
dan afwan berhadapan situasi mulai lebih serius.
“begini nak, ustadz juga pernah merasakan hal yang sama, bahkan ustadz
sudah mau ke jenjang pernikahan”
“serius ustadz? eh maaf tadz” kaget zaki hingga matanya melotot ke
ustadz zaki
“bahkan 2 rius afwan, jadi gini, menurut ustadz jodoh itu misteri bahkan
unik, tidak ada yang tahu jodoh kita siapa, dimana dan kapan datangnya, bahkan
yang sudah berada di depan mata pun belum tentu ia jodoh kita dan yang lebih
lagi yang sebentar lagi akan melakukan akad, jika ia bukan jodohnya bisa batal
pernikahannya”
“ahhh” ustadz zaki menghela nafas Panjang dan menyilangkan kedua kaki
“afwan, pesan ustadz, temui Wanita itu dengan keyakinan, dengan semata-mata
karena Allah bukan karena dan sebab apapun. Kata guru ustadz pernah mengatakan
ada dua kemungkinan seseorang itu adalah jodoh kita, yang pertama ia menerima
kita dengan tanpa tapi dan kedua orang tuanya merestui dengan kita, begitupun
dengan kamu kepadanya. Jika keduanya terpenuhi setelah kamu nadzor bahkan
lanjut ke tahap setelahnya mungkin itu jodoh kamu, namun jika setelah nadzor
kamu makin ragu maka istihorohlah kepada Allah, karena ia sebaik-baik pemberi
keputusan” ustadz zaki mengelus Pundak afwan yang sedari tadi tak bisa berkata
mendengar nasihat ustadz zaki.
“baik ustadz” lembut afwan menjawab nasihat yang Panjang itu. Ustadz zaki
beranjak berdiri dan meninggalkan afwan. Beberapa Langkah meninggalkan afwan,
ustadz zaki menoleh ke afwan yang masih duduk.
“satu lagi afwan, Jodoh itu akan mencari jalannya untuk menemuimu
bagaimanapun rintangannya, Bismillah” senyum ustadz zaki menutup perjumpaan di
tengah suasana syahdu menunggu Mentari terbit.
Bersambung….
Kims. 11/12/22