Bumbu Cinta Nabi Adam
Jika berkata tentang cinta adalah kesetiaan dalam
penantian maka harapan adalah jurang kehancuran perasaan dan bahkan kematian
hati dalam mencintai. Sejatinya cinta memberikan kebahagiaan, ketenangan dan
rasa dihargai dan dilindungi. Ada yang salah dengan cara mengekspresikan cinta
yaitu harapan yang berlebih. Harapan yang wajar sebetulnya boleh, namun jadi
tidak baik saat harapan disandingkan dengan ekspektasi yang menuntut kita
dapatkan.
Seseorang laki-laki yang mencintai seorang wanita
dengan penantian yang cukup lama pun tidak menebus sebuah kekecewaan saat
Wanita itu tidak memberikan keputusan diluar ekspektasi yang berlebihan,
sekalipun Wanita itu Bahagia dengan lelaki lain.
Siapa yang salah? Cinta atau hatinya?.
Hehe, tidak ada yang salah dari keduanya,karena cinta
adalah fitrah seperti cintanya Nabi adam kepada siti hawa begitupun sebaliknya,
cintanya siti hawa kepada nabi adam. Karena sejatinya cinta hadir untuk
menyempurnakan kebahagiaan hidup. Bukankah nabi adam punya segalanya di dalam
syurga? Namun mengapa masih merasakan kesedihan? Yah cinta datang dengan Tuhan
menciptakan siti hawa dari tulang rusuk nabi adam. Dan menyatukan keduanya
dengan cinta.
Dan apakah yang salah hati?
Sepertinya tidak, bagaimana ia, jika hati yang menjadi
pusat dari segala yang menggerakan organ tubuh kita, Tuhan yang hanif yang
menciptakan hati dengan sebaik-baiknya tuhan ciptakan dengan kesalahan,
bukankah hati adalah makhluk yang menempel di dada setiap manusia yang diilhami
dengan nafsu dan ketaatan? Dan bukankah kita yang menggerakan atau orang lain?
Ya, kita yang menggerakan, lantas apakah kita yang
salah?
Tidak sepenuhnya, karena kita ingat bagaimana nabi
adam dengannya cinta kepada siti hawa nabi adam tergoda untuk mengambil buah
khuldi untuk menyenangkan yang dicintainya siti hawa, sementara itu larangan
berat yang Allah larang. Lalu karena kesalahan itu mereka berdua diturunkan ke
bumi. Itulah buah cinta, tidak selamanya indah. Berlanjut kisahnya nabi adam
dan hawa diturunkan ke bumi dengan jarak pisah berkilo meter di padang safana
yang gersang dan akhirnya bertemu kembali di tempat yang dikenal dengan Jabal
Rohmah (Gunung Cinta), begitulah cinta sekalipun tak selalu indah, namun terus
indah pada akhirnya.
Dari awal cinta diciptakanpun, cinta sudah dihiasi
dengan penyesalan dan harapan perjumpaan kembali bukankah itu mengiris hati?
Yah, bisa kita jawab sendiri, yang jelas saat kita merasakan cinta dan berakhir
penantian yang tak kunjung datang atau harapan yang kian pupus atau justru
kegagalan demi kegagalan. Katakanlah dengan yakin, itulah bumbu cinta. Dan
tetap yakin tidak kuasa Allah ciptakan nabi adam hidup sendiri di Syurga, dan
tak kuasa Allah pisahkan siti hawa dengan kekasihnya dalam waktu lama, sehingga
mereka dipertemukan. Bukankah Allahnya nabi adam dan siti hawa adalah Allah nya
kita juga? Yakinlah Allah sedang tersenyum saat kita membaca kilas balik kisah
ini.
Kang Iman I 14/10/22
0 komentar:
Posting Komentar