KUMPULAN PUISI
PENGHAMBAAN
(oleh
: Iman Saida Fs)
Tuhan,
Hamba
ini hanyalah hamba
Yang
tak luput dari alpa
Yang
tak lepas dari dosa
Tak
mampu ku hidup
Tanpa
kasih kuasa dari-Mu
Tak
mampu ku berbuat
Tanpa
uluran tangan dari-Mu
Tak
mampu ku menghembuskan nafas
tanpa
izin kehendak dari-Mu
Aku
bersyukur padamu Tuhan
itulah
ucapanku
pada
qalbu dan pada rangkaian kata ini
tetapi
mengapa tangan ini tak tampak berbuah
Tuhan,
Hamba
yang memiliki setitik kelebihan
Tapi
besar dada yang aku tampakkan
tak
dapat tertandingkan kepunyaan-Mu di jagat raya ini
meski
ditandingkan dengan semua raksasa di peloksok galaksi
hanya
jauh lebih kecil
dari
kecilnya debu yang berterbangan
hanya
lebih hina dari anjing yang berzina
hanya
lebih angkuh
dari
abu lahab yang tak tersuruh
Selayaknya,
Diriku
bisa terbang ke langit ke tujuh
Akan
kukirimkan surat untuk-Mu
Dan
kukabarkan berita itu
Agar
semua insan dapat membacanya.
BERPISAH
(oleh
: Iman Saida Fs)
Aku
baca
Benar,
aku baca
Memang
aku harus baca semua ini
Pada
tiap sasaran pandangan ini
Pada
sekeliling ini
Pada
kehidupan ini
Pada
diri ini
Tak
ada yang tahu persis tentang diri ini
Kecuali
hati dan penciptanya
Budi
diri yang dapat memberi bintang
Aku
tahu jelas tentang itu
Mungkin
jagat raya tahu bagaimana diri ini
Menurutnya
Karena
pohon menampakkan buahnya
Besar,
kecil, pendek, panjang, manis pahit
Begitulah
tampak dan rasanya
Begitu
banyak orang yang aku tatapi
Tetap
saja, hanya engkau yang selalu mengerti
Setia
menemani, bagai sendok dan garpu
Tak
serupa namun saling melengkapi
Bukan
aku yang menjauhimu
Bukan
pula engkau, aku yakin itu
Insan
yang dianggap sejati
Hanya
sebuah angan dan ilusi
Karena
itu jelas adanya
Tatkala
ada pasti menemani
Hanya
saja kabut datang
memisahkan
semuanya
aku tahu apa
yang harus aku lakukan
SELAMAT JALAN
(oleh
: Iman Saida Fs)
Teman,
Kau telah
memberi warna dalam hidup ini
Kau bagai obor
kala gulita
Kau pelurus
jalan kala alpa
Teman,
Buah tanganmu
dalam berjuang
Takkan lenyap
terhempas masa
Hanya kenangan
menjadi bukti
Hanya cerita
menjadi saksi
Teman,
Tiap pijakan
yang kita arungi
Di lentera
samudera jagat raya
Semua abadi
dalam coretan kertas putih
Menjadi saksi
bisu
Bahwa kita
pejuang tanpa jasa
Teman,
Gejolak
Rintangan,
Adalah hal
terindah, kala kita menemukan rumusnya
Tawa, haru,
tangis adalah bumbunya
Kau kan selalu
kuingat sepanjang masaku
Kau kan ku
kenang dalam hidupku
TANAH AIR KU
(oleh : umu istiqomah)
Dikau
ibarat pelangi merah
Sadarkan
mereka
Cintailah
mereka
Sampaikan
salam pada sang surya
Katakana
spercik kata untuknya
Jika
lisan laksana penjara
Biarlah
qalbu mengaum satu desahan
Dan
biarkan tanah ini terancam dengan ego nya
Hidup
tak jauh dari ancaman
Hidup
seperti rentenir
Disaat
tawa dan tangis merasuk
Sadarlah
kita
Tanah
kita yang selalu di usik
Ia
lebih sakit dari apa yang tak terlihat
Tanggungjawab
kita bersemayan di setiap aliran putih
Hanya
balasan kita pada tanah air
Tak
pernah kita hiraukan
HARAPAN HATI
INSAN
(oleh : umu istiqomah)
Kami yang dating dan pergi
Mengemban amanat
ilahi
Akan ku berikan jiwa raga kami
Lewat pengabdian kami
Tanggungjawab dan ketulusan kami
Jadi landasan kami mengabdi
Pengorbanan kami adalah rasa cinta kami
Tekad dan janji terpati dalam hati
Waktu berganti siring bergulirnya mentari
Di millennium ketiga ini
Tiada kata tertata
Tiada cita terangkai
Namun ada asa yang takan sirna
Dalam hidup ada cinta
Menggapai cita yang bercitra
Tanpa cinta, cita dalam hidup takan tergapai
BUKU
(oleh
: umu istiqomah)
Andai buku bisa bicara
Atas dosa apa ia dibiarkan
Atas kesalahan apa ia di rusak
Atas dasar apa ia di ciptakan
Andai mata ia miliki
Lautan pun kecil utk menampung tangisnya
Ia menangis tanda penglihatan
Andai kau jadi aku
Mampukah kau merasa
Mampukah kau bertahan
Tapi aku adalah aku
Aku hanyalah sebuah buku
Yang bisa diletakkan di papan yang tersungkur
Yang bisa di hempaskan hanya satu tindakan
Tapi ingat , tuntutanku.
Berlaku di hari esok