GAMBAR

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 01 Agustus 2016

Kumpulan Puisi



KUMPULAN PUISI



PENGHAMBAAN
(oleh : Iman Saida Fs)

Tuhan,
Hamba ini hanyalah hamba
Yang tak luput dari alpa
Yang tak lepas dari dosa

Tak mampu ku hidup
Tanpa kasih kuasa dari-Mu
Tak mampu ku berbuat
Tanpa uluran tangan dari-Mu
Tak mampu ku menghembuskan nafas
tanpa izin kehendak dari-Mu

Aku bersyukur padamu Tuhan
itulah ucapanku
pada qalbu dan pada rangkaian kata ini
tetapi mengapa tangan ini tak tampak berbuah

Tuhan,
Hamba yang memiliki setitik kelebihan
Tapi besar dada yang aku tampakkan
tak dapat tertandingkan kepunyaan-Mu di jagat raya ini
meski ditandingkan dengan semua raksasa di peloksok galaksi

hanya jauh lebih kecil
dari kecilnya debu yang berterbangan
hanya lebih hina dari anjing yang berzina
hanya lebih angkuh
dari abu lahab yang tak tersuruh 

Selayaknya,
Diriku bisa terbang ke langit ke tujuh
Akan kukirimkan surat untuk-Mu
Dan kukabarkan berita itu
Agar semua insan dapat membacanya. 





BERPISAH
(oleh : Iman Saida Fs)

Aku baca
Benar, aku baca
Memang aku harus baca semua ini
Pada tiap sasaran pandangan ini
Pada sekeliling ini
Pada kehidupan ini
Pada diri ini

Tak ada yang tahu persis tentang diri ini
Kecuali hati dan penciptanya
Budi diri yang dapat memberi bintang
Aku tahu jelas tentang itu

Mungkin jagat raya tahu bagaimana diri ini
Menurutnya
Karena pohon menampakkan buahnya
Besar, kecil, pendek, panjang, manis pahit
Begitulah tampak dan rasanya

Begitu banyak orang yang aku tatapi
Tetap saja, hanya engkau yang selalu mengerti
Setia menemani, bagai sendok dan garpu
Tak serupa namun saling melengkapi

Bukan aku yang menjauhimu
Bukan pula engkau, aku yakin itu
Insan yang dianggap sejati
Hanya sebuah angan dan ilusi
Karena itu jelas adanya

Tatkala ada pasti menemani
Hanya saja kabut datang
memisahkan semuanya
aku tahu apa yang harus aku lakukan





SELAMAT JALAN
(oleh : Iman Saida Fs)

Teman,
Kau telah memberi warna dalam hidup ini
Kau bagai obor kala gulita
Kau pelurus jalan kala alpa

Teman,
Buah tanganmu dalam berjuang
Takkan lenyap terhempas masa
Hanya kenangan menjadi bukti
Hanya cerita menjadi saksi

Teman,
Tiap pijakan yang kita arungi
Di lentera samudera jagat raya
Semua abadi dalam coretan kertas putih
Menjadi saksi bisu
Bahwa kita pejuang tanpa jasa

Teman,
Gejolak Rintangan,
Adalah hal terindah, kala kita menemukan rumusnya
Tawa, haru, tangis adalah bumbunya
Kau kan selalu kuingat sepanjang masaku 
Kau kan ku kenang dalam hidupku




TANAH AIR KU
 (oleh : umu istiqomah)

Dikau ibarat pelangi merah
Sadarkan mereka
Cintailah mereka
Sampaikan salam pada sang surya
Katakana spercik kata untuknya
Jika lisan laksana penjara
Biarlah qalbu mengaum satu desahan
Dan biarkan tanah ini terancam dengan ego nya
Hidup tak jauh dari ancaman
Hidup seperti  rentenir
Disaat tawa dan tangis merasuk
Sadarlah kita
Tanah kita yang selalu di usik
Ia lebih sakit dari apa yang tak terlihat
Tanggungjawab kita bersemayan di setiap aliran putih
Hanya balasan kita pada tanah air
Tak pernah kita hiraukan





HARAPAN HATI INSAN
 (oleh : umu istiqomah)


Kami yang dating dan pergi
Mengemban amanat  ilahi
Akan ku berikan jiwa raga kami
Lewat pengabdian kami
Tanggungjawab dan ketulusan kami
Jadi landasan kami mengabdi
Pengorbanan kami adalah rasa cinta kami
Tekad dan janji terpati dalam hati
Waktu berganti siring bergulirnya mentari
Di millennium ketiga ini
Tiada kata tertata
Tiada cita terangkai
Namun ada asa yang takan sirna
Dalam hidup ada cinta
Menggapai cita yang bercitra
Tanpa cinta, cita dalam hidup takan tergapai
 





BUKU
(oleh : umu istiqomah)

Andai buku bisa bicara
Atas dosa apa ia dibiarkan
Atas kesalahan apa ia di rusak
Atas dasar apa ia di ciptakan
Andai mata ia miliki
Lautan pun kecil utk menampung tangisnya
Ia menangis tanda penglihatan
Andai kau jadi aku
Mampukah kau merasa
Mampukah kau bertahan
Tapi aku adalah aku
Aku hanyalah sebuah buku
Yang bisa diletakkan di papan yang tersungkur
Yang bisa di hempaskan hanya satu tindakan
Tapi ingat , tuntutanku.
Berlaku di hari esok



0 komentar:

Posting Komentar