GAMBAR

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 10 Desember 2022

Maaf, Aku Belum Menaruh Rasa Kepadamu

 

Maaf, Aku Belum Menaruh Rasa Kepadamu

  

(Allahu Akbar Allahu Akbar…)

Suara azan membangunkan lelah dan kantuknya. Begitu berat rasanya untuk bangun kembali. Gimana tidak afwan baru pulang kerja pukul 00.30 sesampai di rumah ia harus menyicil tugas skripsinya hingga pukul 02:00, yang ia sedang kejar target 2 pekan lagi untuk bisa lulus tahun ini jika tidak ia harus ikut wisuda tahun depan. Rasanya berat bagi afwan menyiakan waktu karena itu salah satu impiannya menjadi sarjana sejak masa MTs dulu. Pun demikian ia ingin memberikan 3 hadiah untuk orangtuanya, bisa wisuda tepat waktu, menikah dengan cara yang halal dan memberangkatkan umroh/haji, usia orangtuanya yang sudah renta membuat afwan lebih semangat mengejar impian yang selalu bergelayut di pikirannya.

 

Afwan terbangun dari tidurnya yang dalam keadaan duduk, tangannya masih memegang mouse tanpa kabel berwarna hitam list merah, itulah warna kesukaan afwan.

“Alhamdulillah, masih ada”

afwan sejak bangun baru sadar bahwa ia belum menyimpan hasil ketikan skripsi BAB III nya, dan langsung menyimpan. Seketika kedua mata afwan terpengarah ke handphone yang berada di samping mouse yang tiba-tiba ada notife pesan masuk.

“afwan jangan lupa pagi ini yang rapi dan tolong siapkan pertanyaan dan jawaban dari akhwatnya yah, semoga ini jalanmu, barakallahu fiik, semangat yah :)”.

Seketika wajah afwan merekah melihat pesan ingatan dari murobinya yang sudah janjian akan nadzor1 dengan seorang akhwat yang baru ia kenal dalam lembaran curriculum vitae. Menaruh hanphone ke meja, ambil air wudhu, ambil peci hitam dan memakai sarung, afwan berangkat sholat subuh ke masjid.

 

….

Kebiasaan afwan selepas sholat ia melihat fajar di arah timur yang terlihat jelas dari depan masjid yang cukup tinggi yang dikelilingi rumah-rumah megah perumahan elit kota baja metropolitan, yang dihuni para menejer kantoran dan para PNS yang gajian bulanannya sudah 2 digit. Sementara afwan bukan tinggal disana, ia tinggal di kosan di Lorong dekat perumahan yang hampir semua tingkat 2 dan 3 yang menutupi atap kosannya. Sambil duduk di tangga paling atas afwan memandang dengan pandangan takjub.

“MaasyaAllah, Robbana ma kholaqta hadza baatila, robbana faqina ‘adza bannar”.

Afwan melafadzkan kalimat yang diajarkan gurunya setiap melihat keindahan alam.

        “Kenapa Afwan, apa yang sedang kamu pikirkan?”

 Suara lembut itu membuyarkan fokus afwan memandangi fajar kemerahan itu.

          “Ia Ustadz, maaf tanya apa tadi?” fokus memandang pemandangan indah di arah timur membuat telinga afwan blur mendengar pertanyaan ustadz zaki.

“Ustadz liat dari tadi dari kejauhan, kamu diam tanpa pergerakkan, Ustadz kira kamu sedang lanjutin zikir disini”

tertawa kecil ustadz zaki yang merupakan guru ngaji afwan di komplek seberang kosan afwan.    

“Ustadz ini bisa aja, memang saya bukan sedang Latihan baris berbaris ustadz yang harus gerak-gerak ke kanan dan ke kiri sambil loncat-loncat” afwan menyeringai

          “kamu bisa juga balas candaan saya afwan” senyum ustadz zaki

“Jika ada yang mau kamu ceritakan, katakan saja selagi itu bukan aib kamu yang tak boleh kamu ceritakan pada orang lain”

“saya malu ustadz”

“ngapain malu, kan kamu pakai baju lengkap seperti ini” candaan ustadz zaki sambil melirik baju afwan yang masih mengenakan baju kerja, sarung dan peci hitam

“ceritakan saja afwan, agar lebih lega, semoga ustadz bisa kasih masukan” pinta ustadz zaki lembut

“Baik ustadz” afwan membenahi kakinya sekarang berhadapan kepada ustadznya.

“gini ustadz, saya mau nadzor dengan seorang akhwat yang dikenalkan dengan teman saya dan kebetulan teman saya yang jadi perantaranya. Rencanaya pagi ini kita melangsungkan nadzornya”

“Nah itu bagus, MaasyaAllah, jarang loh orang mau pakai sistem seperti ini dalam memilih pasangan, lalu apa yang menjadi berat bagimu?”. Tanya ustadz zaki

“yang masih kepikiran adalah saya ragu tadz. Saya pernah dengan yakin nadzor seperti ini karena akhwatnya meyakinkan saya untuk lanjut setelah baca curiculum vitae nya. Setelah nadzor ia memutuskan lanjut, Namun setelah tahap mengenalkan kepada orangtua, saya sudah minta izin ke orangtua meski berat dan akhirnya diizinkan, namun bukan karena orangtuanya, akhwatnya sendiri yang mangatakan untuk tidak lanjut dengan alasan masih belum yakin karena saya terlalu sibuk dengan organisasi dan kegiatan saya” jelas afwan

“lalu, menurut kamu, apakah organisasi kamu itu menghambat visi misi pernikahannya nanti” tanya ustadz zaki meyakinkan

“Justru menurut saya, organisasi saya ini akan mendukung visi misi pernikahan nanti ustadz, saya juga sudah sampaikan jika dengan alasan syar’i saya juga bisa minta digantikan posisi saya di organisasi kepada orang lain”

“lalu jawabannya” ustadz zaki penasaran

“begitulah ustadz, mungkin karena alasan lain yang tidak ia bisa sampaikan”

“baik. Sekarang kamu menyerah dengan kejadian itu? Sampai-sampai ada kesempatan yang baik ini justru berbalik kamu yang ragu?” tanya Ustadz zaki yang merubah posisi duduk menghadap kea rah afwan, membuat posisi ustadz zaki dan afwan berhadapan situasi mulai lebih serius.

“begini nak, ustadz juga pernah merasakan hal yang sama, bahkan ustadz sudah mau ke jenjang pernikahan”

“serius ustadz? eh maaf tadz” kaget zaki hingga matanya melotot ke ustadz zaki

“bahkan 2 rius afwan, jadi gini, menurut ustadz jodoh itu misteri bahkan unik, tidak ada yang tahu jodoh kita siapa, dimana dan kapan datangnya, bahkan yang sudah berada di depan mata pun belum tentu ia jodoh kita dan yang lebih lagi yang sebentar lagi akan melakukan akad, jika ia bukan jodohnya bisa batal pernikahannya”

“ahhh” ustadz zaki menghela nafas Panjang dan menyilangkan kedua kaki

“afwan, pesan ustadz, temui Wanita itu dengan keyakinan, dengan semata-mata karena Allah bukan karena dan sebab apapun. Kata guru ustadz pernah mengatakan ada dua kemungkinan seseorang itu adalah jodoh kita, yang pertama ia menerima kita dengan tanpa tapi dan kedua orang tuanya merestui dengan kita, begitupun dengan kamu kepadanya. Jika keduanya terpenuhi setelah kamu nadzor bahkan lanjut ke tahap setelahnya mungkin itu jodoh kamu, namun jika setelah nadzor kamu makin ragu maka istihorohlah kepada Allah, karena ia sebaik-baik pemberi keputusan” ustadz zaki mengelus Pundak afwan yang sedari tadi tak bisa berkata mendengar nasihat ustadz zaki.

“baik ustadz” lembut afwan menjawab nasihat yang Panjang itu. Ustadz zaki beranjak berdiri dan meninggalkan afwan. Beberapa Langkah meninggalkan afwan, ustadz zaki menoleh ke afwan yang masih duduk.

“satu lagi afwan, Jodoh itu akan mencari jalannya untuk menemuimu bagaimanapun rintangannya, Bismillah” senyum ustadz zaki menutup perjumpaan di tengah suasana syahdu menunggu Mentari terbit.

 


Bersambung….

Kims. 11/12/22

0 komentar:

Posting Komentar